Kelahiran dan Nasab Eyang Hasan Maolani

Kelahiran dan Nasab Eyang Hasan Maolani Lengkong Kuningan

Artikel diperbarui April 2020

Eyang Hasan Maolani lahir di desa Lengkong kecamatan Garawangi kabupaten Kuningan Jawa Barat pada hari Senin Legi, pukul 5 sore tanggal 8 Jumadil Akhir tahun ke 1196 Hijriyah. Atau 22 Mei 1782 Masehi. Beliau merupakan saudara paling tua dari tiga bersaudara putra dari pasangan Kyai Bagus Luqman Citangtu dan Nyai Luqman Lengkong. Putra Kyai Bagus Luqman lainnya (kedua adik Eyang Hasan Maolani) adalah ; Nyai Natijah dan Kyai Nur Khatam (Primbon Eyang Abshori).

Nasab (silsilah keturunan) Eyang Hasan Maolani dari jalur ayah adalah ; Hasan Maolani putra Kyai Bagus Luqman (makamnya di Cikanjung - Kabupaten Garut, Jawa Barat) putra Ki Sathar (makamnya di Citangtu - Kabupaten Kuningan, Jawa Barat) putra Ulun Sayu (makamnya di Citangtu) putra Ulun Mariyah putra Ulun Jangkung putra Dalem Mangkubumi putra Prabu Gesanulun putra Singadipati putra Ratu Selawati (adik Aria Kemuning) putra Guru Gantangan (Pangeran Raga Mantri) putra Prabu Siliwangi. (ibid.)

Baca Juga :
1. Otobiografi Eyang Hasan Maolani Dari Lengkong Ke Menado
2. Kelahiran dan Nasab Eyang Hasan Maolani
3. Masa Kecil Eyang Hasan Maolani

Dari jalur ayah, Eyang Hasan juga masih ada keturunan dari Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati karena nenek buyut beliau, Nyai Mas Kenda (istri Ulun Sayu yang makamnya di Citangtu) adalah putri Pangeran Kertadiningrat putra Pangeran Surya Adiningrat putra Pangeran Natadiningrat putra Panembahan Ratu Girilaya putra Pangeran Dipati putra Panembahan Ratu Cirebon (yang pertama) putra Pangeran Wiradipati putra Pangeran Pasarean Putra Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati. (ibid.)

Adapun silsilah dari jalur ibu adalah ; Hasan Maolani putra Nyai Luqman putri Kyai Jafiyah putra Kyai Abdul Qahir putra Syekh Haji Muhammad Husen (dikenal dengan julukan Ki Dalang Kumitir) putra Ki Malang Jiwa putra Ki Narajaya putra Ki Sarawati putra Ki Legasara putra Dalem Balidah putra Prabu Gesanulun putra Singadipati putra Ratu Selawati putra Guru Gantangan putra Prabu Siliwangi. (ibid.)

Baca Juga :
4. Masa Belajar Eyang Hasan Maolani
5. Kehidupan Dan Gerakan Dakwah Eyang Hasan Maolani

Syahdan, menurut cerita orang-orang tua dahulu yang di terima secara turun-temurun, ada beberapa keajaiban yang terjadi seputar kelahiran Eyang Hasan Maolani, bahkan jauh sebelum Eyang Hasan lahir. Adalah ayahanda beliau, ki Bagus Luqman sejak untuk pertama kalinya datang ke pesantren Syekh Abdul Karim (pendiri pesantren Lengkong) untuk tujuan thalabul ilmi telah mendapat perhatian khusus dari Syekh Panembahan Dako, keponakan Syekh Abdul Karim yang di kenal sebagai seorang waliyullah dan salah satu sesepuh Lengkong. Mbah Dako (demikian orang menyebut beliau) menyarankan kepada sang paman agar Bagus Luqman diambilnya sebagai menantu, karena menurut firasatnya dari anak muda inilah akan lahir seorang alim besar yang kelak akan melahirkan keturunan-keturunan yang saleh dan menjadi penyiar-penyiar agama. (A. Tisnawerdaya, 1975 : 34 ) Namun menurut catatan Eyang Abshori (putra Eyang Hasan Maolani) dalam buku Primbon-nya, Ki Bagus Luqman tidak menjadi menantu Syekh Abdul Karim. Kakeknya tersebut malah menikah dengan putri dari Kyai Jafiyah bin Kyai bin Kyai Abdu Qahir. (Primbon Eyang Abshori).

Ketika Nyai Luqman mengandung anak pertamanya, Mbah Dako sempat berpesan, " kelak jika Nyai Luqman melahirkan janin yang di kandungnya bawalah bayinya kesini ". Setelah Nyai Luqman melahirkan putra pertamanya tersebut, yang kebetulan bayi laki-laki, sang jabang bayi kemudian di perlihatkan kepada Syekh Panembahan Dako. Namun ketika Mbah Dako merabanya (Mbah Dako adalah seorang a'ma yang kedua matanya tidak dapat melihat) beliau kemudian menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Wah, bukan ini, yang ini sepertinya tidak akan bertahan lama". Memang benar apa yang dikatakan Mbah Dako, tak lama kemudian bayi tersebut meninggal.

Baca Juga :
6. Di Tawan Dan Di Asingkannya Eyang Hasan Maolani Ke Menado Oleh Kolonial Belanda
7. Wafatnya Eyang Hasan Maolani

Selang Kemudian Nyai Luqman kembali hamil dan melahirkan anak yang kedua ( juga seorang bayi laki-laki). Bayi tersebut kembali di perlihatkan kepada Syekh Panembahan Dako. Untuk bayi yang kedua ini Mbah Dako tersenyum gembira seraya berkata, " Nah, ini yang aku maksud, kalau yang ini ada bulu nabinya". Mbah Dako kemudian berpesan agar supaya sang jabang bayi dijaga dan dirawat dengan baik, karena menurutnya bayi inilah yang telah di firasatkannya. Bayi tersebut kemudian diberinya nama Hasan Maolani. Syekh Panembahan Dako sendiri selang 2 bulan setelah kelahiran Eyang Hasan kemudian wafat, tepatnya pada hari Senin, lepas shubuh tanggal 27 Sya'ban 1196 Hijriyah. Dalam usia 69 tahun (beliau lahir pada tahun 1125 Hijriyah). (Primbon Eyang Abshori).

al-Faqir Abu Abdillah Hadziq

Semoga Bermanfaat 😊
nimdA Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Belum ada Komentar untuk "Kelahiran dan Nasab Eyang Hasan Maolani"

Posting Komentar

Terimakasih telah memberikan komentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel